Notification

×

Iklan

Iklan

Dekan dan Civitas Akademika FSH UINSA Ikuti Pemantauan Hilal Ramadhan di Twin Towers

17/02/2026 | 20.55 WIB | Dibaca: 0 kali Last Updated 2026-02-17T13:55:12Z
    Bagikan


 


Surabaya Pos | Surabaya — Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) bersama civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya mengikuti kegiatan pemantauan rukyatul hilal dalam rangka penentuan awal bulan Ramadan 1447 H di lantai 10 Gedung Twin Towers UINSA, Selasa (17/2/2026) sore.



Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Dekan FSH Dr. Hj. Suqiyah Musafa’ah, M.Ag, Wakil Dekan II FSH Dr. Nurul Asiya Nadhifah, M.H.I, Ketua Laboratorium FSH Elva Imeldatur Rohmah, M.H, serta Imam puri dari Bagian Keuangan fsh. Kehadiran pimpinan dan tenaga kependidikan tersebut menunjukkan dukungan penuh FSH terhadap kegiatan akademik dan keilmuan di bidang falak.



Sebelumnya, Fakultas Syariah dan Hukum Islam UINSA menggelar pengamatan rukyatul hilal di Gedung Twin Towers sebagai bagian dari kontribusi institusi dalam penentuan awal bulan Ramadan. Pemantauan berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB dengan menggunakan delapan alat observasi, terdiri atas teleskop robotik, teleskop manual, teodolit, dan binokuler.



Ketua Program Studi Ilmu Falak UINSA, Siti Tatmainul Qulub, menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal di wilayah Surabaya saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk.



“Tinggi hilal tercatat minus 1 derajat 16 menit dengan elongasi sekitar 1 derajat 13 menit. Posisi tersebut belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat,” jelasnya.



Ia menambahkan, secara hisab hilal terbenam lebih dahulu dibanding matahari dan bahkan ijtimak belum terjadi, sehingga secara ilmiah hilal mustahil untuk terlihat.



“Secara hisab, hilal terbenam lebih dulu daripada matahari dan bahkan belum terjadi ijtimak. Jadi memang mustahil untuk terlihat,” ujar Siti.



Meski demikian, pemantauan tetap dilaksanakan karena bertepatan dengan tanggal penentu awal 1 Ramadan. Tim rukyat UINSA melanjutkan pengamatan hingga pukul 18.30 WIB guna mengonfirmasi kesesuaian antara data hisab dan kondisi faktual di lapangan.



Selain faktor posisi hilal, kondisi cuaca Kota Surabaya yang mendung pada sore hari turut menjadi kendala dalam proses pemantauan.



“Memang kondisi untuk bulan-bulan ini hujan. Hilalnya pasti tidak terlihat, pertama karena hilal berada di bawah ufuk, kedua karena kondisi cuaca yang mendung,” tuturnya.



Apabila hilal tidak terlihat hingga sore hari, maka keesokan harinya akan ditetapkan sebagai tanggal 30 Syakban dan 1 Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis (19/2/2026). Namun, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah yang mempertimbangkan laporan rukyat dari seluruh Indonesia.