Surabaya Pos | Surabaya — Kegiatan rukyatul hilal dilaksanakan di UIN Sunan Ampel Surabaya pada sore hari ini selasa 17 februari 2026 sebagai bagian dari penentuan awal bulan hijriah. Pemantauan dimulai pada pukul 18.30 WIB dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum.
Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan, posisi hilal di wilayah Surabaya masih berada di bawah ufuk, yakni dengan tinggi hilal mencapai -1 derajat 16 menit. Kondisi tersebut belum memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam kesepakatan MABIMS, di mana tinggi hilal minimal harus mencapai 3 derajat untuk dapat dinyatakan sebagai awal bulan.
Meski demikian, rukyatul hilal tetap dilaksanakan karena telah memasuki tanggal 29 bulan berjalan dalam kalender hijriah. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah keesokan harinya masuk tanggal 30 atau sudah ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan berikutnya.
Kaprodi Ilmu Falak UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Siti Tatmainul Qulub, M.S.I., menyampaikan bahwa hasil rukyatul hilal ini akan dilaporkan secara resmi kepada Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Nahdlatul Ulama.
“Kegiatan ini tetap dilaksanakan sebagai bagian dari proses verifikasi penentuan awal bulan hijriah, dan hasilnya akan kami laporkan kepada Kementerian Agama melalui Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Kegiatan rukyatul hilal ini juga diikuti oleh mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya, masyarakat umum, serta organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan yang turut hadir untuk menyaksikan proses pengamatan hilal secara langsung.
Dengan hasil tersebut, penentuan awal bulan hijriah selanjutnya menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.


