Notification

×

Iklan

Iklan

Penyebaran Covid-19: Brasil jadi negara jumlah kasus positif Corona terbanyak ketiga di dunia

19/05/2020 | 18.33 WIB | Dibaca: 0 kali Last Updated 2020-05-19T11:33:13Z
    Bagikan

Foto: Brasil menjadi negara ketiga di dunia dengan kasus tertinggi dan keenam angka kematian tertinggi di dunia.
Brasil menjadi negara dengan jumlah kasus positif virus corona terbanyak ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Rusia. Posisi ini sebelumnya ditempati Inggris, yang kini berada di peringkat empat.
Liputan Dunia, - Brasil melaporkan lebih dari 255.000 kasus hingga Selasa (19/05) sore WIB, sebagaimana tertera pada laman Universitas Johns Hopkins, AS. Adapun jumlah kematian di Brasil mencapai sedikitnya 16.000 orang.
Menurut sejumlah pakar, karena jumlah tes yang tidak memadai di Brasil, jumlah kasus sebenarnya di negara itu bisa saja lebih banyak 15 kali lipat.
Presiden Brasil yang berhaluan kanan, Jair Bolsonaro, menganggap remeh risiko Covid-19 dan membandingkan penyakit itu dengan "flu kecil".


coronaHak atas fotoAFP/GETTY IMAGES
Image captionPemakaman massal para jenazah yang diduga dan terkonfirmasi meninggal dunia akibat Covid-19 di Manaus, Brasil.

Seberapa parah situasi di Brasil?

Brasil kini mencatat lebih dari seperempat juta kasus positif.
Akibatnya, sistem kesehatan di kota terbesar Brasil, Sao Paulo, menurut wali kota Bruno Covas, dapat kolaps dalam dua pekan mendatang.
Kota itu berpenduduk sekitar 12 juta jiwa dan para pejabat mengatakan banyak warganya mengabaikan aturan menjaga jarak. Di Kota Sao Paulo saja, lebih dari 3.000 orang telah meninggal dunia akibat Covid-19.
Namun, tidak hanya kawasan perkotaan yang terdampak parah. Daerah Amazon mencatat hampir 21.000 kasus positif per Senin (18/05).


Nelson Teich dan BolsonaroHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionNelson Teich, kiri, dan Jair Bolsonaro dalam upacara pelantikannya kurang dari sebulan yang lalu.

Bagaimana cara Bolsonaro menangani Covid-19?

Penanganan Bolsonaro terhadap wabah di negaranya menimbulkan berbagai kritik hingga pengunduran diri Menteri Kesehatan Nelson Teich, pekan lalu.
Nelson Teich mengkritik dekrit yang dikeluarkan Presiden Jair Bolsonaro, yang membolehkan pusat kebugaran dan salon kecantikan dibuka kembali.
Namun ia tidak memberikan alasan pengunduran dirinya dalam jumpa pers.
Pejabat sebelum Teich, Luiz Mandetta, dipecat Presiden Bolsonaro setelah keduanya berseteru soal kebijakan menjaga jarak.
Bagaimanapun, fokus Bolsonaro terhadap meminimalisir gangguan ekonomi disambut banyak orang. Para pendukungnya menggelar pawai anti-lockdown dan dihadiri sendiri oleh sang presiden.
Menteri Kesehatan Brasil mengundurkan diri setelah kurang dari sebulan, menyusul ketidaksepakatan atas cara pemerintah menangani eskalasi krisis virus corona di negara itu.
Presiden berhaluan ekstrem kanan itu terus menentang langkah-langkah pembatasan.
Ia meremehkan virus corona, menyebutnya "hanya flu ringan" dan mengatakan bahwa penyebaran Covid-19 tidak terhindarkan. Sikapnya itu telah menuai kritik dari komunitas internasional.
Mengapa sang menteri kesehatan mengundurkan diri?


brasilHak atas fotoAFP/GETTY IMAGES
Image captionPara petugas makam melakukan persiapan dalam proses pemakaman massal di Manaus, kawasan Amazon, Brasil, 6 Mei lalu.

Dalam jumpa pers, Teich tidak mengungkapkan alasannya mengundurkan diri. Ia hanya mengucapkan terima kasih kepada Presiden Bolsonaro karena memberinya kesempatan untuk melayani sebagai menteri dan memuji petugas layanan kesehatan.
Namun ia telah berselisih dengan presiden mengenai beberapa aspek tentang langkah pemerintah dalam menghadapi epidemi yang semakin meningkat.


Bolsonaro dan Teich dalam jumpa pers.Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionMr Teich (kanan) berselisih dengan presiden tentang caranya menangani krisis.

Ia tidak setuju dengan keinginan presiden menggunakan klorokuin sebagai obat untuk pasien Covid-19. Obat ini telah mendapatkan perhatian luas meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak ada bukti yang memastikan keampuhannya.
Teich juga berselisih dengan sang presiden mengenai rencana untuk membuka ekonomi, mengatakan pada pekan lalu bahwa ia tidak diajak berkonsultasi sebelum presiden mengeluarkan perintah yang memungkinkan pusat kebugaran, salon kecantikan, dan penata rambut untuk buka kembali.
Namun perbedaan pendapat tentang penggunaan klorokuin adalah batasnya, lansir surat kabar Globo.
Ia adalah menteri kesehatan kedua yang mundur dalam waktu kurang dari sebulan. Luiz Henrique Mandetta dipecat pada bulan April setelah Presiden Bolsonaro mengkritiknya secara terbuka karena meminta khalayak untuk menjaga jarak sosial dan tidak keluar rumah.


Presentational grey line

Analisis oleh Katy Watson, Koresponden Amerika Selatan
Kehilangan satu menteri kesehatan itu canggung, tetapi kehilangan dua dalam waktu kurang dari sebulan tidak hanya memalukan bagi Jair Bolsonaro tetapi sangat mengkhawatirkan bagi Brasil.
Negara ini telah menjadi titik panas terbaru untuk virus corona dan alih-alih para politisi berusaha menanganinya bersama, pandemi ini telah menjadi isu politik dan pemimpin negara gagal memberikan arahan bagi rakyat yang benar-benar membutuhkannya.
Nelson Teich tidak memberikan alasan untuk kepergiannya, hanya mengatakan "hidup ini penuh dengan keputusan dan saya memutuskan untuk pergi" - tetapi dia tidak sepakat dengan bosnya tentang penggunaan klorokuin dan pelayanan kesehatannya; dan, kementerian kesehatan yang dipimpinnya tidak dilibatkan ketika pekan ini Jair Bolsonaro memutuskan untuk mengategorikan salon kecantikan, penata rambut, dan pusat kebugaran sebagai layanan esensial.
Tampaknya pekerjaan menteri kesehatan untuk Jair Bolsonaro adalah tugas tanpa pamrih saat ini — tetapi itu adalah lowongan pekerjaan yang sulit pada waktu terburuk di Brasil.

Source: bbc.com/indonesia