Notification

×

Iklan

Iklan


Lulus Kuliah, Nikah, dan Punya Anak Tahun 1992, Wildan Sebut Mujiaman Tidak Jujur

02/12/2020 | Desember 02, 2020 WIB | Dibaca: 0 kali Last Updated 2020-12-02T11:12:40Z
    Bagikan

Surabaya Pos, - Sebagus apapun program kerja bila dijalankan oleh orang tidak dapat dipercaya tentunya akan berakibat fatal. Karena itu Surabaya perlu dipimpin pemimpin terpercaya atau Numero Uno

Dari keterangan Wildan Hilmi ZA, ST menyatakan bahwa dalam Podcast milik Dahlan Iskan, ketika Mujiaman sebagai tamu,  selain ada unsur menipu Dahlan Iskan, juga membuka tabir siapa sebenarnya Mujiaman?. Rabu, ( 2/12).

Dalam Podcast tersebut intinya Mujiaman mengakui bahwa dia masuk ITS tahun 1986, kuliah 6 tahun keluar tahun 1992, langsung dapat kerja dan menikah dengan gadis Tuban ( Wurian Kustina, sementara Istri yang sekarang Acstantia Haqya Fandri dari Tulungagung.red)

Pengakuan ini hanyalah pengakuan yang biasa-biasa saja. Namun bila melihat profil Putri pertama Mujiaman yang memiliki nama Januar Majesty, lahir pada 27 Oktober 1992. Tentunya timbul pertanyaan, bagaimana bisa lulus tahun 1992, menikah tahun 1992 dan punya anak 1992. 

Foto: Januar Majesty, lahir 27 Oktober 1992.

"Kalau kuliah 6 tahun itu berarti wisuda September, setelah itu menikah dan Oktober  lahir anak pertama. Seandainya ia wisuda Maret pun, dan sesudahnya  menikah lantas Oktober punya anak, jelas ada masalah dalam pernikahannya. Mengingat September Oktober selisih satu bulan. Sedang Maret sampai Oktober selisih 7 bulan. Biarlah publik yang ambil kesimpulan dari data-data itu" ujar Wildan sambil tertawa.

"Pernyataan tidak jujur Mujiaman di podcastnya pak Dahlan Iskan, jelas menunjukkan kepribadian seperti apa yang dimilikinya," lanjutnya.

Selain itu kepada pihak-pihak yang menyatakan bahwa tindakan Wildan mengumbar perilaku negatif Mujiaman adalah sebagai bagian kampanye yang tidak sehat. Menurut mereka kampanye itu seharusnya adu program.

Sambil tertawa Wildan berkata " saya sudah membaca semua visi, misi dan program kerja pasangan maju yang disodorkan ke KPU. Poin 1 pada pernyataan kondisi objektif yang membandingkan PDRB kota Surabaya dengan kota Kediri angkanya salah," ucap Wildan.

Perlu diketahui PDRB kota Surabaya itu tertinggi di Jawa timur. Sementara angka yang disampaikan oleh pasangan Maju adalah PDRB perkapita. Kalau PDRB perkapita memang Kediri lebih tinggi, itu bukan karena Kediri lebih baik, namun disana ada pemilik gudang garam yang pendapatannya bisa setara sejuta masyarakat Surabaya golongan 40% terbawah.

"Kondisi objektif yang dipakai dasar untuk merumuskan visi, misi dan program kerja salah. Apalagi mau diadu program kerjanya. Terus program itu dijalankan oleh orang yang memiliki kepribadian tidak baik. Bisa modar Surabaya," ujarnya sambil geleng-geleng kepala.

Lebih jauh alumni ITS angkatan 2010 ini menyatakan bahwa seseorang yang akan  menjadi pejabat publik perlu dilihat rekam jejak masa lalunya. Baik itu perilaku baik atau buruk, ini dilakukan agar ada kepercayaan. "Bila tidak mau diungkap perilaku buruknya, ya jangan berkeinginan menjadi pejabat publik," katanya.

Calon pejabat harus jujur dengan masa lalunya yang gelap dan itu konsekuensinya jelas yakni pasti akan gagal. Calon pejabat publik perlu kepintaran untuk menyembunyikannya. " Kalau sampai ketahuan itu berarti yang bersangkutan masih terlalu lugu dalam politik," ujarnya.

Wildan mengakui bahwa tujuannya mengungkap perilaku buruk yang dilakukan oleh Mujiaman, hanya untuk memastikan Surabaya dipimpin oleh orang terpercaya. "Istilah italianya numero uno lho bukan Sandiaga Uno," katanya.

"Sebetulnya saya memiliki segudang perilaku buruk yang dilakukan oleh Mujiaman, perilakunya sudah menjadi rasan- rasan dikalangan alumni, hanya mereka didepan Mujiaman tidak berani mengatakan. Saya ini angkatan 2010 beda 24 angkatan dengan Mujiaman. Bisa tahu banyak ya dari alumni-alumni yang lebih tua," jelas pengurus IKA ITS periode 2019-2024.

Bahkan alumni-alumni sering mengatakan bahwa Mujiaman seorang yang pragmatis. Pernah demi mendapatkan klien, ia rela mengikuti kegiatan klien yang bakar bakar hio di rumah peribadatan. Dengan segala ritualnya.

Selain itu Mujiaman memiliki kesukaan yang mendalam terhadap lagu berjudul gadis bisu yang dipopulerkan oleh Muhsin Alatas. "Konon kumis Mujiaman terinspirasi kumisnya Muhsin Alatas" ujarnya sambil membandingkan foto Muhsin Alatas dan Mujiaman.

Terpisah, saat awak media konfirmasi melalui WhatsApp ke Mujiaman tidak berkenan menjawab atas peristiwa itu. (hnd/red)


Sumber: Liputan Indonesia


×
Berita Terbaru Update