Notification

×

Iklan

Iklan

Barong Ider Bumi Kemiren Ramaikan Lebaran Hari Kedua di Banyuwangi

22/03/2026 | 22.42 WIB | Dibaca: 0 kali Last Updated 2026-03-22T15:42:27Z
    Bagikan

 

Surabaya Pos | Banyuwangi - Genderang suara gamelan dan kemeriahan warna-warni kostum adat kembali menyapa Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tepat pada Minggu (22/3/2026) atau hari kedua Lebaran (2 Syawal), ribuan warga dan wisatawan tumpah ruah menyaksikan ritual adat Barong Ider Bumi, sebuah tradisi sakral yang rutin digelar untuk menolak bala.


Ritual ini bukan sekadar tontonan, melainkan warisan leluhur yang sangat dinanti. Sejak pagi, ruas jalan di Desa Kemiren sudah dipadati pengunjung yang antusias. Bagi masyarakat Suku Osing, Barong Ider Bumi adalah simbol perlindungan sekaligus rasa syukur yang telah mendarah daging dalam kehidupan mereka selama ratusan tahun.


Tokoh masyarakat adat Desa Kemiren, Suhaimi, mengisahkan bahwa tradisi ini memiliki akar sejarah yang kuat sejak tahun 1840-an. Kala itu, Desa Kemiren dilanda wabah mematikan dan gagal panen akibat serangan hama yang masif. Kondisi desa mencekam dengan banyaknya warga yang menjadi korban jiwa dalam waktu singkat.


"Kemudian muncul masa paceklik yang sangat panjang. Sesepuh desa saat itu meminta saran kepada Mbah Buyut Cili yang dipercaya sebagai leluhur kami. Pencerahan datang melalui mimpi, di mana warga diminta mengarak Barong berkeliling kampung untuk mengusir kemalangan," ungkap Suhaimi.


Masyarakat Kemiren percaya bahwa Barong, sosok makhluk bermahkota dengan sayap yang megah, memiliki kekuatan untuk menjaga desa dari segala marabahaya. Sebelum arak-arakan dimulai, para tokoh pelestari Barong terlebih dahulu mengirimkan doa di petilasan Buyut Cili sebagai bentuk penghormatan dan permohonan izin.


Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Hartono, yang hadir mewakili Bupati Banyuwangi, menyatakan rasa syukurnya atas kelancaran acara ini. Barong Ider Bumi kini secara resmi masuk dalam kalender Banyuwangi Attraction 2026 sebagai salah satu magnet wisata budaya unggulan.


"Terima kasih kepada masyarakat yang sudah bergotong royong menyukseskan event ini. Acara ini terselenggara setiap tahun dan terbukti selalu sukses menarik minat wisatawan luar daerah untuk datang ke Banyuwangi," ujar Hartono.


Aksi ikonik dimulai saat arak-arakan bergerak dari sisi timur menuju sisi barat Desa Kemiren sejauh kurang lebih 2 km. Sepanjang rute, tokoh adat melakukan tradisi sembur uthik-uthik, yaitu menebarkan sekitar 999 koin logam yang dicampur beras kuning dan aneka bunga. Aksi ini menjadi rebutan warga karena simbolis sebagai bentuk membuang sial.


Sebagai puncak acara, rangkaian ritual ditutup dengan prosesi selamatan kampung yang dilakukan secara massal. Tak lengkap rasanya ritual ini tanpa kehadiran Tumpeng Pecel Pitik, kuliner tradisional khas Banyuwangi yang menjadi menu wajib dalam setiap perayaan sakral di Desa Kemiren.


Pecel Pitik sendiri berbahan utama ayam kampung muda yang dipanggang utuh di atas kayu bakar. Daging ayam kemudian disuwir manual dan dicampur dengan bumbu parutan kelapa muda yang kaya rempah seperti cabai rawit, terasi, dan daun jeruk. Aroma sedap dari jamuan ini menjadi penanda berakhirnya ritual sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga.