Notification

×

Iklan

Iklan


Sunan Sentono Botoputih, Area Makam Para Darah Biru dan Penyebar Islam di Surabaya Jawa Timur

22/02/2022 | Februari 22, 2022 WIB | Dibaca: 0 kali Last Updated 2022-02-26T23:47:07Z
    Bagikan
Surabaya- Area makam Sentono Boto Putih bukan hanya dihuni oleh satu tokoh Pangeran Lanang Dangiran atau lebih dikenal Sunan Botoputih atau Mbah Brondong saja. Melainkan ada banyak dan keturunan raja yang dimakamkan disini.

Mulai keturunan dari Kejaraan Blambangan sampai keraton Surabaya. Sebagaimana disampaikan Juru Kunci Makam Boto Putih, Raden Ariyanto Suseno, makam ini adalah makam keluarga turunan darah biru.


"Di sini juga ada makamnya Bupati pertama Kota Surabaya yaitu Raden Adipati Ario Tjokronegoro IV, beliau adalah bupati Surabaya yang menjabat tahun 1863 - 1901," kata Ariyanto, Rabu (14/6/2017).


Dari garis keturunan, bupati pertama Surabaya adalah cucu dari Sunan Boto Putih. Yang merupakan anak dari Hanggojoyo, anak pertama dari Sunan Boto Putih.


Semua yang dimakamkan di sini adalah darah biru yang memegang trah dari Sunan Boto Putih. Bahkan di semua makam yang ada di sini semua memiliki gelar raden agung dan raden ajeng.


"Memang makam darah biru. Ini makam keluarga. Jadi nggak bisa sembarangan orang dimakamkan di sini," ucap pria yang merupakan generasi ketujuh keturunan Sunan Boto Putih ini.


Salah satu orang terkemuka yang belakangan dimakamkan di sini adalah almarhumah istri dari Irjen Pol Purn Handiatmoko mantan Kapolda Jawa Timur. Almarhumah istrinya yaitu Yaniek Supriyanti.


"Beliau juga keluarga dan memiliki keturunan dari Sunan Boto Putih," imbuhnya.


Selain itu beberapa raja juga dimakamkan di sini. Beberapa diantaranya adalah Maulana Mohammad Shafiuddin, yakni Sultan Banten yang ke XVII.


Selain itu juga ada makam Pengeran Soerja Atmaja, yang merupakan Sultan Banten XVII dan merupakan raja terakhir.


Meski memiliki banyak makam raja dan tokoh besar, makam ini tidak memiliki keketatan atau eksklusivitasan.


"Nggak ada larangan. Yang penting dengan niat baik dan tidak membuat onar tetap diterima," katanya.


Saat Ramadan, nuansa makam di sini sangat kental. Banyak orang datang melantunkan ayat suci dan gak pernah sepi. Namun sayangnya area makam sering juga dipakai tidur peziarah yang kelelahan berdoa meskipun ada larangan tidur di area makam.





Penulis : one

×
Berita Terbaru Update