Notification

×

Iklan

Iklan

Surabaya Rumah Kita: Melawan Yasin, Meneladani Yamin

01/01/2026 | 16.41 WIB | Dibaca: 0 kali Last Updated 2026-01-01T09:41:36Z
    Bagikan


Surabaya
Pos
|| Surabaya sejak awal bukan kota milik satu suku, satu darah, atau satu asal-usul. Kota ini tumbuh dari perjumpaan para pendatang, dari Madura hingga Sumatra, dari Sulawesi hingga Nusa Tenggara, dari Jawa, Ambon, Tionghoa, Arab, dan berbagai penjuru Nusantara. 


Surabaya adalah kota temu, bukan kota klaim. Kota ini berdiri bukan karena siapa yang paling dulu datang, melainkan karena siapa yang paling bersedia menjaga kebersamaan.


Sejarah Surabaya tak pernah ditulis oleh identitas yang saling meniadakan, tetapi oleh semangat kolektif “arek-arek” yang melampaui asal-usul. Inilah ruh yang dahulu dihidupi oleh Pemuda Yamin: lahir dari Ormas kesukuan, namun berani menghancurkan sekat kesukuan itu sendiri demi satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Ormas baginya bukan alat kuasa, melainkan jembatan persatuan.


Namun hari ini, Surabaya sedang diuji. Sebagian Ormas kedaerahan justru membalikkan warisan Yamin. Identitas yang seharusnya menjadi ruang solidaritas, berubah menjadi alat tekanan. Kesukuan yang seharusnya dirawat sebagai kekayaan budaya, dipelintir menjadi legitimasi penguasaan ruang sosial dan ekonomi. Dari sinilah kegelisahan warga lahir, bukan karena keberagaman, melainkan karena cara keberagaman disalahgunakan.


Dalam konteks inilah narasi Yasin harus dihadirkan. Bukan untuk dimaklumi, apalagi dibenarkan, tetapi sebagai peringatan keras. Yasin adalah cermin retak tentang bagaimana pemuda bisa berubah menjadi pemecah belah ketika virus primordialisme dibiarkan hidup. Tindakannya bukan perjuangan dan bukan keberanian, melainkan premanisme yang menyandera rasa aman warga dan mencederai Surabaya sebagai rumah bersama.


Yasin adalah korban keadaan. Ia tumbuh dari pembiaran panjang: ketika hukum ragu ditegakkan, ketika kekerasan dinegosiasikan atas nama stabilitas, dan ketika identitas dijadikan alat tawar. Dalam ruang abu-abu itulah, premanisme sosial merasa sah. Inilah yang harus dilawan bersama tanpa ragu dan tanpa kompromi.  Melawan Yasin bukan berarti memusuhi suku tertentu atau menolak Ormas sebagai entitas. 


Surabaya tidak anti Ormas dan tidak anti pendatang. Sejarah kota ini justru dibangun oleh mereka yang datang dan berkontribusi. Yang ditolak Surabaya adalah cara berpikir kolonial dalam wajah lokal: tinggal di sini, mencari hidup di sini, tetapi tidak mau merawat kebersamaan kota ini. Jika Pemuda Yamin menggunakan Ormas kesukuan untuk menyatukan Indonesia, maka Yasin menggunakan Ormas kesukuan untuk menciptakan sekat baru.


Perbedaan ini harus ditegaskan. Yamin melahirkan persatuan, Yasin menumbuhkan ketakutan. Yamin membangun negara, Yasin menggerogoti sendi sosialnya.


Karena itu, sikap pemuda dan masyarakat Surabaya harus jelas. Yasin bukan panutan, melainkan peringatan. Ia bukan simbol perlawanan, melainkan tanda bahaya. Setiap tindakan premanisme, dari siapapun pelakunya, apapun organisasinya, dan dari suku manapun asalnya, adalah urusan hukum dan harus ditindak tegas oleh negara.


Surabaya membutuhkan pemuda-pemuda Yamin baru-para perantau dan anak kota-yang mencintai Surabaya bukan sebagai tempat singgah, tetapi sebagai rumah. Pemuda yang menjadikan Ormas sebagai ruang pengabdian, bukan alat dominasi. Pemuda yang berani berdiri di sisi persatuan, meski harus berhadapan dengan mereka yang menjual identitas demi kuasa sesaat.


Surabaya Rumah Kita hanya bisa dijaga jika kita berani melawan Yasin-Yasin dalam bentuk apapun, dan secara sadar memilih jalan Yamin: jalan persatuan, keadilan, dan tanggung jawab bersama. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat dengan getir bahwa Kota Pahlawan bukan runtuh oleh perbedaan, tetapi oleh pembiaran terhadap mereka yang memecah belah atas nama identitas.(Red)