Surabaya – Tidak semua perjalanan akademik berjalan lurus dan mulus. Bagi Ichlasul Amal, jeda satu tahun dari bangku SMA menuju bangku kuliah justru menjadi titik baik yang menguatkan langkahnya.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini membuktikan bahwa kegigihan mampu mengalahkan keterbatasan. Ia dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik Yudisium ke-113 dan 114 FDK UINSA dengan raihan IPK 3,91, yang digelar di Auditorium UINSA Surabaya, Rabu (04/1/2026).
Ichlasul Amal menyampaikan bahwa waktu itu saya merasa perlu berhenti sejenak untuk memahami apa yang sebenarnya ingin saya capai.
“Saya tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini, yang saya lakukan hanya berusaha konsisten dan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai,” Ucapnya.
Keputusan Amal untuk menghentikan studi sementara bukan perkara mudah. Ada keraguan dan kekhawatiran yang menyertainya.
Namun, jeda tersebut justru menjadi ruang refleksi sebelum ia kembali melanjutkan kuliah dengan semangat baru. “Berhenti bukan berarti menyerah, saya hanya ingin kembali dengan kesiapan mental yang lebih kuat,” jelas Amal.
Putra kedua pasangan Maksum dan Alif Munzaroah ini mengangkat isu aktual dalam skripsinya yang berjudul “Kasus Kematian Diplomat Kementerian Luar Negeri: Studi Media Sosial Instagram @detikcom”. Penelitian itu mengkaji peran media sosial dalam membentuk opini publik.
“Saya tertarik melihat bagaimana satu peristiwa bisa dipersepsikan berbeda oleh publik melalui framing media sosial,” jelasnya.
Di luar perkuliahan, Amal aktif dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi dan menjalani pekerjaan paruh waktu di bidang fotografi dan videografi. Aktivitas tersebut ia jalani beriringan dengan kewajiban akademik. “Kerja sambilan mengajarkan saya disiplin dan bertanggung jawab dengan waktu. Itu pelajaran yang tidak saya dapatkan hanya dari kelas,” tutur Amal.
Dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan Amal. Maksum, ayah Amal, mengaku tidak pernah memaksakan pilihan kepada anaknya, termasuk saat Amal memutuskan berhenti kuliah sementara. “Kami sebagai orang tua hanya bisa mendampingi. Yang penting dia tahu apa yang dipilih dan siap menanggung konsekuensinya,” Kata Maksum.
Maksum menilai jeda yang diambil anaknya justru membentuk kedewasaan. Ia melihat perubahan sikap Amal ketika kembali melanjutkan studi. “Setelah kembali kuliah, dia lebih fokus dan bertanggung jawab. Kami melihat sendiri proses itu,” tuturnya.
Bagi Maksum, capaian IPK tinggi bukanlah tujuan utama, namun yang terpenting proses dan nilai hidup yang diperoleh anaknya. “Prestasi itu bonus, sedangkan yang utama bagi kami, dia tumbuh jadi pribadi yang mandiri dan tidak mudah menyerah,” ungkap Maksum.
Kisah Ichlasul Amal menjadi gambaran bahwa keberhasilan dalam pendidikan tinggi tidak selalu lahir dari jalur yang cepat dan lurus. “Setiap anak punya waktunya masing-masing. Tugas orang tua adalah percaya dan memberi ruang,” imbuh Maksum.
Penulis: din


