Notification

×

Iklan

Iklan

Jatanras Polda Jatim Ungkap Tren Pencurian: Dipicu Gaya Hidup Medsos, Didominasi Pelaku Muda

19/03/2026 | 20.42 WIB | Dibaca: 0 kali Last Updated 2026-03-19T13:42:28Z
    Bagikan

 

Surabaya Pos | BONDOWOSO – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur melalui Subdirektorat Jatanras mengungkap adanya pergeseran tren kejahatan pencurian di wilayah Jawa Timur. Jika sebelumnya didominasi sindikat, kini justru banyak dilakukan secara perorangan, terutama oleh kalangan muda.


Hal tersebut disampaikan Kepala Subdirektorat Jatanras Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, usai menghadiri kegiatan doa bersama di Pondok Pesantren Nurut Taqwa, Desa Grujugan, Kecamatan Cermee, Bondowoso.


Menurutnya, sejumlah kasus menonjol yang berhasil diungkap di kawasan Tapal Kuda meliputi pencurian kendaraan bermotor (curanmor), perampasan, begal, perampokan, hingga kasus pembunuhan.


“Trennya sekarang bergeser. Banyak pelaku bertindak sendiri, bukan lagi jaringan besar,” ujarnya.


Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah dugaan pembunuhan mahasiswi di Pasuruan, yang dipicu persoalan pribadi, konflik keluarga, serta masalah utang piutang.


Selain itu, maraknya kasus curanmor di Bondowoso juga menjadi sorotan. Pelaku kerap menyasar lokasi seperti apotek dan pertokoan, terutama saat pemilik kendaraan memarkir motor secara tergesa-gesa.


“Pelaku biasanya sudah mengamati lokasi yang ramai dan pengunjungnya terburu-buru. Ini yang dimanfaatkan,” jelasnya.


Lebih lanjut, Arbaridi mengungkapkan bahwa mayoritas pelaku berusia muda. Fenomena ini diduga kuat dipengaruhi gaya hidup di media sosial yang menampilkan kemewahan secara instan.


“Di media sosial terlihat hidup serba enak. Akhirnya ada yang memilih jalan pintas. Motor dijual, langsung dapat uang jutaan,” tegasnya.


Atas kondisi tersebut, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat memarkir kendaraan. Selain itu, generasi muda juga diminta lebih bijak dalam menggunakan media sosial.


Ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai benteng utama pencegahan kriminalitas, termasuk melalui peran pondok pesantren dalam membentuk moral dan kedisiplinan remaja.


“Santri itu beruntung, kehidupannya terarah dari pagi hingga malam,” pungkasnya.