Surabaya Pos | Surabaya – Presidium GRANAT (Gerakan Rakyat Transportasi Online), Tito Ahmad, bersama Puji Waluyo sebagai sesama presidium, secara tegas menyatakan sikap untuk tidak ikut serta dalam aksi yang direncanakan pada 28 April 2026.
Keputusan tersebut diambil karena pihaknya telah menyiapkan agenda nasional yang dinilai lebih strategis dan berdampak luas bagi perjuangan driver transportasi online (18/4).
Tito Ahmad menjelaskan bahwa pihaknya bersama aliansi nasional, termasuk Forum Diskusi Transportasi Online Indonesia (FTDOI), akan menggelar gerakan serentak pada 20 Mei 2026. Agenda ini dirancang sebagai kelanjutan dari konsolidasi nasional yang sebelumnya telah dilakukan pada tahun lalu di 16 kota di seluruh Indonesia.
“Dengan mempertimbangkan arah perjuangan yang lebih besar, saya memutuskan untuk tidak ikut aksi 28 April. Saya mengajak seluruh anggota, simpatisan, dan rekan-rekan driver yang selama ini mempercayai saya, mari kita sukseskan agenda nasional pada 20 Mei 2026,” tegas Tito saat di temui di cafe Surabaya (17/4).
Menurutnya, persoalan transportasi online tidak cukup diselesaikan di tingkat regional, termasuk di Jawa Timur. Ia menilai bahwa akar persoalan berada di tingkat pusat, khususnya terkait regulasi dan kebijakan nasional.
“Regulasi tidak cukup hanya dibahas di daerah. Pengambil keputusan ada di pusat. Undang-undang transportasi online yang sudah masuk Prolegnas harus kita dorong agar segera diterbitkan oleh DPR RI,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pada 20 November 2025 lalu, pihaknya telah melakukan aksi di Jakarta dengan tuntutan utama percepatan penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) yang hingga kini belum terealisasi. Selain itu, pihaknya juga mendorong alternatif berupa revisi Undang-Undang Lalu Lintas Nomor 22.
“Semua produk hukum itu ada di Jakarta. Ketika pusat sudah menerbitkan aturan yang jelas, maka daerah akan lebih mudah mengadopsi dan menjalankannya,” tambahnya.
Tito tidak menampik berbagai keluhan yang saat ini dirasakan para driver di lapangan. Ia menyoroti persoalan tarif yang belum ideal, belum adanya sanksi tegas bagi aplikator, hingga beban aturan yang dinilai memberatkan driver.
“Saat ini driver masih dibebani berbagai aturan berbayar, seperti kendaraan R4 berbayar, izin trayek berbayar, dan pungutan lainnya. Ini jelas menambah beban. Saya tidak sepakat dengan kondisi ini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Tito juga mengimbau kepada regulator agar tidak terburu-buru dalam melakukan penegakan hukum, mengingat kondisi driver yang dinilai belum siap secara ekonomi.
“Jangan terlalu cepat melakukan penegakan hukum. Kalau dipaksakan, ini bisa menimbulkan gesekan dengan driver yang masih kesulitan, tarif belum naik, dan masih banyak pungutan,” ujarnya.
Sebagai penutup, Tito Ahmad menegaskan bahwa momentum perjuangan driver transportasi online tidak boleh kehilangan arah. Ia mengajak seluruh rekan driver untuk tetap solid, tidak terprovokasi, dan fokus pada tujuan besar yang sedang diperjuangkan bersama di tingkat nasional.
“Jangan setengah hati. Kita sudah sampai di titik ini dengan perjuangan panjang. Saatnya kita rapatkan barisan, satukan suara, dan tunjukkan bahwa driver online punya kekuatan besar jika bergerak bersama dan bagi yang masih mempercayakan saya sebagai penggerak demo ojol di Jawa Timur pungkasnya.
Dengan semangat persatuan, ia menyerukan agar seluruh elemen driver, komunitas, dan aliansi tetap konsisten mengawal agenda 20 Mei 2026 sebagai langkah strategis menuju kejelasan regulasi, keadilan tarif, dan perlindungan yang layak bagi seluruh driver transportasi online di Indonesia.


